[Latest News][6]

Agenda
Bahtsul Masail
Foto
Opini
Syariah
Ubudiyah
Video
Warta

Pentaskan Wayang Klithik di Acara Merayakan Peradaban Wali-Wali Jawi





ANSOR, MENARA – Pergelaran wayang klithik menjadi salah satu acara yang digelar di kawasan Menara Kudus. Pada Sabtu (2/12/2017) malam wayang ini dipentaskan pada kegiatan Merayakan Peradaban Wali-Wali Jawi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA).

Pertunjukan yang mengangkat cerita tentang babad Kota Kudus ini  dimulai sekitar pukul 20.00 dan diakhiri sekitar pukul 00.30. Oleh dalang Sutikno, dari Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan. Pementasannya diiringi gamelan dan lagu-lagu.

Wayang ini disebut klitik, bukan karena ukurannya kecil saja. Ada juga bunyi klitik saat masing-masing tokoh wayang saling beradu. Bunyi benturan terdengar dari wayang yang berbahan dasar kayu jati. Kesenian ini tumbuh seiring masuknya agama Islam di tanah Jawa, khususnya Kudus.

Denny Nur Hakim, koordinator Humas dan Publikasi Yayasan Masjid Menara dan Makam Menara Sunan Kudus (YM3SK)  mengatakan, pagelaran wayang klithik ini sangat cocok ditampilkan. Kisahnya sangat berkaitan dengan cerita Kudus. ”Ini merupakan salah satu bentuk media dakwah yang digunakan para wali,” terangnya.

Peran sentral kesenian ini pada sang dalang. Sepintas orang akan mengira, bentuk dan cerita wayang klitik mirip kesenian wayang kulit yang lebih dulu popular di Jawa. Namun, imbuh Denny, berbeda.

Isi cerita wayang klitik berkisar babad tanah Jawa atau cerita rakyat mengenai legenda tanah Jawa, semisal Panji Semirang. Sementara kesenian wayang kulit yang diangkat cerita Ramayana dan Mahabharata.

Wayang dimainkannya merupakan tokoh-tokoh kerajaan Majapahit. Sutikno mengisahkan cerita dalam setting kerajaan yang melegenda di tanah air. Dia merupakan satu-satunya pewaris dalang wayang klithik. Dia mewarisi kemahiran mendalang tersebut dari ayahnya, Sumarlan.

Denny mengatakan, pagelaran tersebut untuk dakwah. ”Seperti halnya yang dilakukan para wali zaman dahulu, mereka menyebarkan agama Islam melalui kesenian dan budaya. Oleh karena itu, adanya pertunjukan wayang ini saya harap masyarakat bisa meneladani dan mencontoh kiprah para wali,” ujarnya.

Sebelum pertunjukan, pihaknya memamerkan foto-foto bersejarah di kompleks makam Sunan Kudus. Selain itu, ada ratusan artefak peninggalan sembilan wali dipamerkan dalam peradaban wali-wali Jawi.

Denny mengatakan, Dari sekitar 50 foto yang dipajang, kebanyakan berasal dari luar negeri. Untuk mendapatkan tidak mudah. Pihaknya mencari ke perpustakaan dan museum di Belanda. Satu file foto tersebut itu senilai Rp 150 ribu. Seperti foto mahkota Sultan Demak. Saat ini benda tersebut menjadi salah satu koleksi di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda.

”Kini yang bisa lihat cuma fotonya. Sedangkan bendanya di negeri orang. Sungguh tragis bukan. Bangsa kami yang sebagai pewaris budayanya malah tidak memilikinya,” ujarnya. (Kharis)

Tentang GP Ansor Ranting Nalumsari

Gerakan Pemuda Ansor Ranting Nalumsari Jepara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mulai mengetik dan tekan Enter untuk Cari